Constructing Social Relation Models in Multicultural Societies Through Coffee Table Books to Strengthen Pluralism

Main Article Content

Abd Mu’id Aris Shofa
Muhammad Mujtaba Habibi
Alfian Fawaidil Wafa
Hanafi Hanafi
Hafidah Putri Pangestu

Abstract

This research aims to construct a model of social relations of multicultural communities in Sidodadi Village, Gedangan, Malang Regency, which is known as a religious moderation village. The approach used is qualitative with phenomenological methods, data collection through interviews, observation and documentation, which is then analyzed through the stages of collection, condensation, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study show that the social relations model in Sidodadi Village was formed through the integration of three Pierre Bourdieu theories, namely: 1) habitus, which is internalized from an early age through the example of religious leaders; 2) capital, based on mutual trust implemented by the location of places of worship in close proximity; and 3) arena, the existence of an inclusive arena in community activities that ensures equality without domination. This is influenced by internal factors (local actors), infrastructure and the existence of a tradition of mutual cooperation. This social relations model is constructed into visual communication media in the form of a coffee table book, which functions strategically as a practical, aesthetic, and persuasive instrument to educate the public about the value of pluralism as well as an alternative strategy for preventing intolerance in an inclusive manner.

Article Details

How to Cite
Shofa, A. M. A., Habibi, M. M., Wafa, A. F., Hanafi, H., & Pangestu, H. P. (2026). Constructing Social Relation Models in Multicultural Societies Through Coffee Table Books to Strengthen Pluralism. The Eastasouth Journal of Learning and Educations, 4(02), 178–184. https://doi.org/10.58812/esle.v4i02.1118
Section
Articles

References

[1] M. H. Nuryadi, Z. Zamroni, and S. Suharno, “The Pattern of the Teaching of Multiculturalism-Based Civics Education: A Case Study at Higher Education Institutions,” European Journal of Educational Research, vol. volume-9-2020, no. volume-9-issue-2-april-2020, pp. 799–807, Apr. 2020, doi: 10.12973/eu-jer.9.2.799.

[2] I. W. Ningsih, A. Mayasari, and U. Ruswandi, “Konsep Pendidikan Multikultural di Indonesia,” Edumaspul: Jurnal Pendidikan, vol. 6, no. 1, pp. 1083–1091, Mar. 2022, doi: 10.33487/edumaspul.v6i1.3391.

[3] Abd. M. A. Shofa, M. Z. Alfaqih, A. F. Wafa, and P. Widiatmaka, “Penguatan Toleransi Melalui Kampung Moderasi Beragama Untuk Membangun Ketahanan Ideologi Pancasila Di Daerah Istimewa Yogyakarta,” Jurnal Penelitian Agama Hindu, vol. 9, no. 4, pp. 310–319, Oct. 2025, doi: 10.37329/jpah.v9i4.4788.

[4] N. Nurhakim, M. I. Adriansyah, and D. A. Dewi, “Intoleransi Antar Umat Beragama di Indonesia,” MARAS: Jurnal Penelitian Multidisiplin, vol. 2, no. 1, pp. 50–61, Jan. 2024, doi: 10.60126/maras.v2i1.126.

[5] D. A. N. Ashfiya, “Kasus Intoleransi di Indonesia: Jumlah, Penyebab, Pelaku dan Contohnya,” GoodStats.

[6] Abd. M. A. Shofa, “Praktik Kehidupan Toleransi di Masyarakat Desa Pancasila dan Implikasinya terhadap Ketahanan Ideologi (Studi di Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Bondowoso),” Jurnal Ketahanan Nasional, vol. 28, no. 2, pp. 145–160, 2022.

[7] D. Hariyanto, “Pancasila Dan Relasi Harmoni Antar Umat Beragama Pada Komunitas Sunda Wiwitan Di Cigugur,” Pancasila Dan Relasi Harmoni Antar Umat Beragama, vol. 4, no. 2, pp. 370–388, 2022.

[8] S. Arifin, M. A. Kholish, and D. H. T. Mu’iz, “Teologi Konversi Agama Dan Upaya Menumbuhkan Nilai-Nilai Toleransi Di Basis Multikultural,” WASKITA: Jurnal Pendidikan Nilai dan Pembangunan Karakter, vol. 6, no. 1, pp. 41–59, 2022.

[9] I. Azizah, N. Kholis, and N. Huda, “Model Pluralisme Agama Berbasis Kearifan Lokal ‘Desa Pancasila’ di Lamongan,” FIKRAH, vol. 8, no. 2, pp. 1–24, 2020, doi: https://doi.org/10.21043/fikrah.v8i1.7881.

[10] D. Rosyalita, “Implementasi Prinsip Pluralisme dalam Kehidupan Beragama di Indonesia,” Journal for Education and Sharia, vol. 1, no. 1, pp. 8–13, 2024, [Online]. Available: https://jes.arbain.co.id

[11] A. M. A. Shofa, “Praktik Toleransi Desa Pancasila Sebagai Penguatan Keharmonisan Antar Umat Beragama di Jawa Timur,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, vol. 7, no. 3, p. 671, Nov. 2022, doi: 10.17977/um019v7i3p671-681.

[12] R. Dhias and M. Saputra, “Perancangan Coffee Table Book Bangunan Bersejarah di Kota Tua Jakarta,” Seminar Nasional Institut Kesenian Jakarta (IKJ), 2022, doi: 10.52969/semnasikj.v1i1.25.

[13] R. D. M. Saputra, “Perancangan Coffee Table Book Bangunan Bersejarah di Kota Tua Jakarta,” Seminar Nasional Institut Kesenian Jakarta (IKJ), 2022, doi: 10.52969/semnasikj.v1i1.25.

[14] W. N. H. Mardiko, M. Suharto, and E. Wulandari, “A Brainstorming Design: “Coffee Table Book as a Main Media and Other Supporting Medias for Promotion of Javanese Gamelan,” Proceedings Series on Social Sciences & Humanities, vol. 12, pp. 218–237, Oct. 2023, doi: 10.30595/pssh.v12i.799.

[15] T. N. Derung, H. Resi, and I. P. X, “Toleransi dalam bingkai moderasi beragama: Sebuah studi kasus pada kampung moderasi di Malang Selatan,” KURIOS, vol. 9, no. 1, p. 52, Apr. 2023, doi: 10.30995/kur.v9i1.723.

[16] BPS, “Data kependudukan Desa Sidodadi, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang.”

[17] E. Sutrisno, Marsidi, and Martino, “Potret Kerukunan Antar Umat Beragama Dalam Bingkai Moderasi Beragama: Studi Kasus Di Desa Sidodadi, Malang,” Harmoni, vol. 23, no. 2, pp. 291–310, 2024, doi: 10.32488/harmoni.v23i1.699.

[18] H. Rosita, “Implementasi Moderasi Beragama Dan Tantangannya Bagi Kerukunan Sosial (Studi Kasus: Desa Sidodadi Kabupaten Malang),” LoroNG: Media Pengkajian Sosial Budaya, vol. 14, no. 2, 2025.

[19] Abd. M. A. Shofa, M. Z. Alfaqi, M. M. Habibi, and L. M. Tijow, “Reconstruction of Pancasila as an Ideology: Strengthening the Values of Tolerance in Multicultural Society through Pancasila Village,” 2024, pp. 218–229. doi: 10.2991/978-2-38476-307-8_23.

[20] B. Setiawan, “Inklusi Sosial-Keagamaan Sebagai Indikator Pendukung Indeks Kota Toleran Di Kota Singkawang,” Jurnal Masyarakat dan Budaya, vol. 26, no. 3, pp. 83–98, 2024, doi: 10.55981.2024.14050.

[21] I. K. Yudiana and I. W. Mertha, “Harmoni Dalam Kemultikulturan Di Desa Pancasila (Potret Kerukunan Antarumat Beragama Di Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi),” Jurnal Sangkala, vol. 2, no. 2, pp. 70–85, 2023, [Online]. Available: www.jurnal.untag-banyuwangi.ac.id/index.php/jurnalsangkala/

[22] A. Fitri, A. Toyibah, R. Maulinda, and Irmawati, “Multukulturalisme dan Batas Sosial: Analisis Teori Batas Di Desa Pancasila Jember,” Prosiding Seminar Nasional Psikologi, vol. 10, pp. 364–376, 2025.

[23] R. Aditia, “Fenomena Phubbing: Suatu Degradasi Relasi Sosial Sebagai Dampak Media Sosial,” KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, vol. 2, no. 1, pp. 8–14, Apr. 2021, doi: 10.24123/soshum.v2i1.4034.

[24] J. Lestari, “Pluralisme Agama Di Indonesia Tantangan dan Peluang Bagi Keutuhan Bangsa,” Al-Adyan: Journal of Religious Studies, vol. 1, no. 1, pp. 29–38, 2020.

[25] A. Sekarani YS, A. Arryadianta, R. S. Rinjani, and I. Yuni Purnama, “Konsep Coffee Table Book Bertema Landmark Di Kota Jakarta,” JSRW (Jurnal Senirupa Warna), vol. 10, no. 1, pp. 78–101, Jan. 2022, doi: 10.36806/.v10i1.145.

[26] E. Ardyan et al., Metode penelitian kualitatif dan kuantitatif: Pendekatan metode kualitatif dan kuantitatif di berbagai bidang. Jambi: PT. Sonpedia Publishing Indonesia, 2023.

[27] Pahleviannur et al., Metodologi penelitian kualitatif. Sukoharjo: Pradina Pustaka, 2022.

[28] Muhasim, Zulfikar Muhammad, and Ifrohan, “Strengthening Religious Moderation: applying nine core values in Religious Moderation Village,” Indonesian Journal of Islamic Religious Education, vol. 2, no. 2, pp. 231–243, Apr. 2025, doi: 10.63243/wgezqe58.

[29] M. Mustikasari, A. Arlin, and S. A. Kamaruddin, “Pemikiran Pierre Bourdieu dalam Memahami Realitas Sosial,” Kaganga:Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora, vol. 6, no. 1, pp. 9–14, Jan. 2023, doi: 10.31539/kaganga.v6i1.5089.

[30] Nurnazmi and S. Kholifah, “Anatomi Teori Pirre Bourdieu Pada Sosiologi Postmodern,” Edu Sociata: Jurnal Pendidikan Sosiologi, vol. 6, no. 2, pp. 1308–1321, 2023, doi: https://doi.org/https://doi.org/10.33627/es.v6i2.1657.

[31] W. Toyyibah, “Analisis Budaya Kerja Aparatur Pemerintah Desa dalam Prespektif Pierre Felix Bourdieu (Studi Di Desa Sengonagung Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan),” Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial, vol. 4, no. 12, pp. 51–60, 2024, doi: https://doi.org/https://doi.org/10.6578/triwikrama.v4i12.5924.

[32] P. K. Hadi, Strategi Wiji Thukul dalam Praktik Sastra: Arena Produksi Kultural Pierre Bourdieu dan Relevansinya dengan Pembelajaran Sastra di Perguruan Tinggi. Magetan: CV AE Media Grafika, 2023.